Sabtu, 22 November 2014

Tikus Yang Berperang Melawan Musang

00.08 0 Comments

Tikus Yang Berperang Melawan Musang

Aesop


Tikus lari berhamburan di kejar oleh musang dalam perangMusang dan tikus dari dahulu tidak pernah akur dan selalu bermusuhan antara satu dengan yang lainnya. Di setiap peperangan, musang selalu menang dan tikus yang kalah dalam perang selalu menjadi mangsa musang. Karena putus asa, sang Tikus mengadakan pertemuan besar dan berdiskusi agar perang selanjutnya bisa dimenangkan mereka. Pada pertemuan tersebut, mereka mengambil kesimpulan bahwa pasukan tikus sering kalah karena mereka tidak mempunyai pemimpin pasukan. Maka dibentuk dan ditunjuklah sekumpulan jenderal dan pemimpin pasukan dari tikus-tikus yang kelihatan mampu memimpin pasukan.
Untuk membedakan pangkat dari komandan, jenderal dan tentara, pimpinan-pimpinan baru ini dengan bangganya mengikat kepalanya dengan lencana dan perhiasan-perhiasan dari bulu dan jerami. Setelah melakukan persiapan yang panjang dan  berlatih dalam seni perang, pasukan tikus ini mengirimkan tantangan ke musang.
Dengan senang hati musang menerima tantangan karena mereka selalu siap untuk bertempur apabila mangsa mereka ada di depan mata. Mereka langsung menyerang pasukan tikus dalam jumlah yang besar. Dalam waktu sekejap, barisan tikus tercerai-berai dan mereka lari berhamburan menyelamatkan diri. Pasukan tikus dengan pangkat rendah, dengan mudah masuk bersembunyi ke dalam lubang tikus, tetapi pimpinan-pimpinan mereka sulit untuk masuk ke dalam lubang yang sempit karena perhiasan yang melekat di atas kepala mereka. Saat itulah ajal mereka berakhir dan menjadi mangsa oleh musang yang lapar.
Pangkat dan kebesaran, bukan berarti tidak memiliki kelemahan.

Tikus Kota dan Tikus Desa

00.08 0 Comments

Tikus Kota dan Tikus Desa

Aesop


Tikus desa menjamu tikus kota dengan makanan yang sederhanaSeekor tikus kota suatu ketika berkunjung ke teman sekaligus kerabatnya yang tinggal di pedesaan. Sebagai makan siang, tikus desa menyediakan gandum, akar-akaran, kacang-kacangan dan air dingin sebagai minuman pelepas dahaga. Tikus kota makan dengan sangat sopannya, mencicipi sedikit ini dan itu, dan tingkah lakunya yang sopan saat memakan makanan yang sederhana itu, cukup jelas terlihat sebagai basi-basi saja.
Setelah makan, kedua tikus berbincang-bincang cukup panjang, tikus kota menceritakan tentang kehidupan di kota, sedangkan tikus desa mendengarkan ceritanya. Mereka berdua akhirnya tidur dengan tenang dan nyaman di sarang yang nyaman di antara semak-semak dan pepohonan sampai pagi hari. Dalam tidurnya, tikus desa bermimpi bahwa dia adalah seekor tikus kota dengan segala kemewahan dan keindahan kehidupan kota seperti yang temannya ceritakan tadi siang. Sehingga saat hari berikutnya ketika tikus kota mengajak tikus desa untuk berkunjung ke rmahnya di kota, dengan senang tikus desa mengiyakannya.
Tikus desa dan kota berlari ketakutan saat mendengar kucing yang mengeongKetika mereka mencapai rumah besar di mana tikus kota tersebut tinggal, mereka menemukan meja ruang makan penuh dengan makanan sisa yang lezat. Di atas meja tersebut mereka mendapatkan manisan, agar-agar, keju yang lezat, semua jenis makanan yang menggoda yang pernah dibayangkan oleh sang Tikus. Tetapi saat tikus desa akan mencicipi sedikit makanan, dia mendengar seekor kucing yang mengeong keras sambil menggaruk-garuk pintu dengan cakarnya. Dalam rasa takut yang sangat besar, tikus-tikus tersebut berlari sembunyi dan berdiam diri untuk waktu yang lama, seolah-olah bernapas pun mereka takut. Ketika akhirnya mereka bisa kembali ke meja makan, pintu terbuka tiba-tiba dan masuklah pelayan untuk membersihkan meja, diikuti oleh seekor anjing rumah.
Tikus desa singgah di sarang tikus kota sebentar hanya untuk mengambil tas dan payungnya.
"Kamu mungkin memiliki kemewahan dan segala sesuatu yang lezat yang tidak saya miliki," kata tikus desa sambil beranjak pergi tergesa-gesa, "Tetapi saya lebih memilih makanan dan kehidupan sederhana di desa dengan segala kedamaian dan ketenangan di sana."
Kehidupan sederhana yang aman lebih baik dibandingkan kehidupan mewah yang dikelilingi oleh rasa takut dan ketidak-pastian.

Tiga Sedadu

00.07 0 Comments

Tiga Serdadu

Joseph Jacobs


Pada suatu masa, ada tiga orang serdadu yang barusan kembali dari medan perang, satu berpangkat sersan, satunya berpangkat kopral, dan orang yang ketiga berpangkat prajurit. Suatu malam mereka terpaksa bermalam di hutan dan membuat api unggun sebagai penerangan, dan sersan mendapatkan giliran untuk berjaga.
Sementara dia berjaga, seorang wanita tua bungkuk, datang kepadanya dan berkata, "Serdadu yang baik, bisakah saya menghangatkan diri di dekat api unggunmu?"
"Tentu saja, Bu. Anda saya persilakan duduk dekat api untuk menghangatkan diri," kata si Sersan.
Si Sersan menerima dompet ajaib dari seorang nenek tuaJadi wanita tua itu duduk dekat api unggun untuk sementara waktu, dan ketika dia benar-benar telah merasa hangat, dia berkata kepada sersan, "Terima kasih, serdadu, terimalah pemberian ini sebagai balas jasaku kepada kamu." 
Si Wanita Tua itu pun menyerahkan sebuah dompet berupa kantongan, yang tampaknya memiliki sesuatu di dalamnya.
"Oh, terima kasih, Bu," kata si Sersan, "tapi saya tidak mengharapkan hadiah apa-apa dari Anda, apalagi di saat Anda tidak memiliki sesuatu."
"Mungkin kelihatannya begitu," kata wanita tua itu, "tetapi coba tuangkan isi kantongan ini ke tanganmu, saat terus menuangkannya seperti itu kepingan emas akan mengalir keluar dari kantong itu."
Si Sersan mencobanya, dan setiap kali dia mengangkat dan menuangkan isi kantongan, dari dalam kantong keluarlah kepingan-kepingan emas. Si Sersan mengucapkan terima kasih, dan wanita tua itu pun pergi.
Malam berikutnya, si Kopral yang mendapatkan giliran untuk menjaga, dan si Wanita Tua itu juga datang kepadanya dan minta untuk dapat duduk di dekat api unggun.
"Tentu saja, Bu," ujar si Kopral. "Saya mengerti bagaimana rasanya saat tubuh kedinginan."
Si Wanita Tua kemudian duduk di dekat api untuk sementara waktu, dan ketika dia akan pergi, dia memberi kopral itu sebuah taplak meja.
Kata si Kopral, "Terima kasih, Bu, tetapi kami serdadu, jarang menggunakan taplak meja ketika kita makan."
"Ya, tetapi taplak meja ini akan memberikan kamu makanan," kata si Wanita Tua. "Setiap kali kamu menempatkan ini di atas meja atau di tanah dan berseru 'penuhilah!', maka makanan yang terbaik akan muncul sekaligus di atasnya."
"Kalau begitu," kata si Kopral, "Saya akan menerimanya, dan saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Anda."
Tidak lama kemudian, si Wanita Tua itu pun pergi. Lalu, si Kopral membangunkan rekan-rekannya dan menggelar taplak mejanya lalu berucap: "Taplak meja, penuhilah!"
Dalam sekejap, makan malam terbaik yang bisa kita bayangkan,muncul di atas taplak meja tersebut.
Malam berikutnya, si Prajurit yang mendapatkan tugas jaga malam, dan si Wanita Tua itu muncul juga dan meminta untuk duduk di dekat api unggun seperti biasanya.
"Tentu saja boleh," kata si Prajurit. "Sambutan saya terhadap Anda, sama seperti saya menyambut ibu saya sendiri."
Setalah si Wanita Tua itu duduk beberapa waktu di dekat api, maka dia pun berdiri dan berkata, "Terima kasih banyak, Nak. Saya berharap kamu menerima pemberian saya ini."
Si Wanita Tua itu pun memberikan sebuah peluit ke prajurit yang berjaga ini.
"Untuk apakah peluit ini?" tanya si Prajurit. "Saya tidak terlalu mengetahui kegunaan dari peluit ini."
"Kamu cukup meniupnya saja," jawab si Wanita Tua, "dan setiap kali kamu meniupnya, akan datang pasukan bersenjata yang akan melakukan apapun yang kamu perintahkan kepada mereka."
Setelah itu, wanita tua itu pun pergi dan mereka bertiga tidak pernah melihatnya lagi. Selanjutnya, ketiga serdadu melanjutkan perjalanan bersama sampai tiba di suatu kota di mana ada seorang putri raja yang sangat bangga dengan kemampuannya bermain kartu, bahkan sang Putri berjanji bahwa dia akan setuju untuk menikahi pria yang bisa mengalahkan dia bermain kartu.
Si Sersan juga pandai bermain kartu, karena itu dia berusaha mencoba peruntungannya dengan sang Putri. Dia pun pergi ke istana dan menawarkan diri untuk mengikuti sayembara dan bermain kartu melawan sang Putri, tetapi sang Putri berkata kepadanya, "Apa yang kamu berikan bila kamu kalah? Nah, jika saya kalah, saya harus menikahi kamu. Bagaimana dengan kamu, setuju?"
Si Sersan itu mengangguk dan mengatakan, "Ya, saya akan memberikan kantong dompet saya bila saya kalah."
"Mengapa, hanya kantong dompet? Kantong dompet itu kan tidak berisi apa-apa di dalamnya!" seru sang Putri.
"Mungkin tidak kelihatan berisi apapun sekarang," jawab si Sersan. "Tapi lihatlah," tunjuk si Sersan, dan dia pun membalikkan kantong dompet dan meletakkan tangannya di bawah kantong tersebut, dan pada saat itu kepingan emas berjatuhan ke telapak tangannya selama dia menuangkan isi kantong tersebut.
Sang putri pun setuju untuk bermain demi mendapatkan kantongan itu. Tetapi dengan liciknya, dia telah mengatur cermin di bagian belakang kepala sersan sehingga dia bisa melihat semua kartunya. Karena itu, dia dapat menang mudah, dan si Sersan harus kehilangan kantongan dompetnya.
Tetapi sang Putri ini begitu cantik dan menarik sehingga si Sersan jatuh cinta kepadanya, dan ketika dia kembali ke rekan-rekannya, dia meminta si Kopral untuk meminjamkan taplak mejanya. Lalu, dia pun kembali ke sang Putri dan berkata kepadanya, "Apakah Anda ingin bermain dengan saya demi selembar taplak meja ini?"
Sang Putri kaget karena hanya ditawarkan taplak meja. Tetapi si Sersan menjelaskan, "Ini adalah sebuah taplak meja yang sangat indah, selain itu taplak meja ini memiliki kelebihan tersendiri."
Lalu dia meletakkan taplak tersebut di atas meja dan berkata, "Taplak meja, penuhilah!"
Saat itu makan malam yang lezat terhampar di atasnya. Sang Putri tahu dia akan bisa mengalahkan si Sersan. Dia setuju untuk bermain sekali lagi untuk mendapatkan taplak meja itu, karena yakin dengan memakai cermin dia bisa memenangkan taplak meja dari si Sersan.
Hal yang sama terulang kembali ketika si Sersan meminjam peluit dari si Prajurit, dan mencoba peruntungannya sekali lagi dengan sang Putri. Akan tetapi kali ini dia menyadari apa yang sang Putri lakukan, dan akhirnya tahu bahwa dia telah ditipu, meskipun dia tidak berani mengungkapkannya.
Dia mengalami kekalahan lagi dan kembali ke rekan-rekannya, meminta maaf kepada rekan-rekannya, dan menceritakan semua kelicikan sang Putri yang telah menipunya. Teman-temannya pun memaafkannya, dan mereka semua berangkat melanjutkan perjalanan untuk mengembara.
Mereka semua berjalan dan berjalan lagi sampai akhirnya mereka tiba di tepi sungai di mana pada tepiannya tumbuh pohon ara berwarna putih dan hitam. Si Sersan pun mengumpulkan beberapa buah ara dari pohon yang berbeda, lalu duduk di tepi sungai sambil memakan buah tersebut.
Pertama, dia makan buah ara yang hitam. Karena merasa haus, dia pergi ke sungai untuk minum air, dan saat dia melihat ke dalam air, dia melihat bahwa telah tumbuh dua tanduk di sisi kepalanya seperti tanduk seekor kambing. Si Sersan menjadi terkejut dan bingung, dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tetapi karena masih lapar, dia pun memakan salah satu buah ara yang berwarna putih.
Sepasang tanduk yang tumbuh di kepala sang PutriKetika dia pergi untuk minum sekali lagi, dia melihat bahwa tanduknya telah menghilang. Dia menjadi mengerti bahwa buah ara hitam akan menumbuhkan tanduk dan buah ara putih menghilangkan tanduk yang muncul. Dia lalu mengumpulkan lebih banyak buah ara tersebut dan kembali ke kerajaan sang putri, lalu mengirimkan beberapa buah ara hitam sebagai hadiah dari seorang pengagum.
Setelah beberapa saat, terdengarlah kabar di sekitar kerajaan bahwa sang Putri memiliki tanduk di kepalanya, dan akan memberikan apapun yang diminta kepada setiap orang yang bisa menghilangkan tanduk di kepalanya.
Si Sersan pun pergi ke istana, dan di hadapan sang Putri dia berkata, "Saya dapat menghilangkan tanduk Anda, tetapi saya menginginkan agar kantong dompet saya, taplak meja saya, dan peluit saya dikembalikan."
Sang Putri pun memerintahkan pelayannya untuk membawa benda tersebut ke hadapan si Sersan, dan berjanji untuk mengembalikan semuanya apabila tanduknya dihilangkan. Maka si Sersan memberinya ara putih, dan segera setelah sang Putri memakan buat tersebut, tanduknya pun menghilang. Si Sersan kemudian mengambil kantong dompetnya, taplak mejanya, dan peluitnya.
Setelah itu, dia berkata kepada sang Putri, "Sekarang, maukah Anda menikah dengan saya?"
"Tidak," tolak sang Putri. "Mengapa saya harus menikah dengan kamu?"
"Karena Anda memenangkan permainan kartu dengan cara tidak jujur," ketus si Sersan.
Sang Putri tetap menolak untuk dinikahi. "Mungkin saya curang, mungkin tidak, tetapi saya tidak melihat alasan apapun yang mengharuskan saya harus menikah dengan kamu."
Kemudian si Sersan pun meniup peluitnya, dan dalam sekejap istana terisi penuh dengan pasukan serdadu. Si Sersan itu pun kembali berkata, "Jika Anda tidak memenuhi janji Anda untuk menikah dengan saya, saya dan serdadu ini akan merebut tahta ayah Anda!"
Sang Putri pun akhirnya menerima lamaran si Sersan, dan si Sersan pun mengirim utusan kepada rekannya, si Kopral dan si Prajurit agar mereka dapat datang ke istana untuk ikut menikmati kemakmuran si Sersan. Akhirnya, mereka semua hidup berbahagia dalam kemakmuran.
Jangan pernah bertaruh, karena hal tersebut dapat membuat kita kehilangan segalanya.

Tiga Orang Wanita Penenun

00.06 0 Comments

Tiga Orang Wanita Penenun

Brothers Grimm


Tiga Wanita Penenun
Dahulu kala ada seorang gadis yang sangat malas dan tidak pernah mau menenun kain, dan ibunya tidak pernah bisa membujuk gadis tersebut untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Akhirnya ibunya menjadi sangat marah dan kehilangan kesabaran dan mulai memukul anak gadisnya dengan keras. Pada saat itu Ratu yang kebetulan lewat, berhenti di depan rumah gadis tersebut karena mendengar gadis itu menangis. Ratu kemudian masuk ke dalam rumah dan bertanya apa yang terjadi pada gadis itu dan mengapa ibunya memukuli anak gadisnya sampai-sampai semua orang yang berada di jalan dapat mendengarkan gadis tersebut menangis.
Ibu gadis tersebut menjadi sangat malu untuk mengakui kemalasan anak gadisnya, sehingga dia berkata,
"Saya tidak bisa menghentikan dia menenun, dia selalu ingin mengerjakannya setiap waktu dan saya terlalu miskin sehingga tidak bisa menyediakan dia rami - bahan untuk ditenun yang cukup."
Kemudian Ratu menjawab,
"Saya sangat senang mendengar suara roda alat pemintal, dan saya merasa senang mendengarkan mereka bersenandung, biarkanlah saya membawa putrimu ke istana, saya mempunyai banyak rami dan bahan tenung, di sana dia dapat memintal dengan hati gembira."
Ibu gadis tersebut sangat senang mendengarkan tawaran itu, dan Ratu pun kemudian membawa gadis tersebut bersamanya. Ketika mereka mencapai istana, Ratu memperlihatkan tiga ruangan yang penuh dengan rami dan bahan tenun yang terbaik yang ada di kerajaannya.
"Sekarang kamu dapat menenun rami ini," Katanya, "dan bila kamu berhasil menyelesaikannya, kamu akan saya nikahkan dengan putra tertua saya; kamu mungkin miskin tapi saya tidak akan memperdulikan hal itu, kain yang kamu buat dari rami ini cukup sebagai emas kawin,"
Gadis itu ketakutan dalam hati, karena dia sama sekali tidak dapat menenun, biarpun dia hidup seratus tahun dan duduk menenun setiap hari selama hidupnya dari pagi sampai malam. Dan ketika dia berada sendirian dia mulai menangis, dan duduk selama tiga hari tanpa menyentuh alat tenun. Pada hari ketiga, Ratu datang, dan ketika dia melihat tidak ada satupun tenunan yang selesai, dia lalu terkejut; tetapi gadis tersebut beralasan bahwa dia belum bisa mulai menenun karena dia masih bersedih akibat perpisahan dengan rumah dan ibunya. Alasan itu membuat Ratu menjadi tenang, tetapi ketika Ratu akan beranjak pergi, dia mengatakan "Besok pekerjaan kamu harus dimulai."
Ketika gadis itu sendirian lagi, dia tidak dapat berbuat apa apa untuk menolong dirinya sendiri atau melakukan apapun yang sudah seharusnya dilakukan. Dalam kebingungannya dia cuma keluar dan menatap keluar jendela. Saat itu dilihatnya tiga orang wanita lewat didepannya, dan wanita yang pertama memiliki kaki yang lebar dan rata, yang kedua mempunyai bibir yang tergantung turun sampai ke dagunya, dan yang ketiga memiliki ibu jari tangan yang sangat lebar. Mereka kemudian berhenti di depan jendela, dan mencoba bertanya apa saja yang gadis itu inginkan. Gadis itu menjelaskan apa yang dibutuhkannya, dan mereka berjanji akan membantunya, dan berkata,
Sang Gadis tidak perlu lagi menenun
"Kamu harus mengundang kami ke pesta pernikahanmu, dan tidak malu karena kehadiran kami, menyebut kami sebagai sanak keluarga dan sepupumu, dan diperbolehkan duduk satu meja dengan kamu; jika kamu berjanji akan memenuhi hal ini, kami akan menyelesaikan tenunan tersebut dalam waktu singkat."
"Saya berjanji sepenuh hati," jawab si gadis; "masuklah dan mulailah sekarang."
Lalu ketiga wanita itu masuk, dan mereka membersihkan sedikit ruangan pada kamar pertama untuk mereka agar mereka dapat duduk dan menempatkan alat tenun mereka.  Wanita yang pertama menarik keluar benang dan mulai menapakkan kakinya ke tuas yang memutar roda alat tenun, wanita yang kedua membasahi benang,  dan wanita yang ketiga memilin dan meratakannya dengan ibu jarinya diatas meja, perlahan-lahan gulungan-gulungan benang yang indah berjatuhan diatas lantai, dan ini menghasilkan tenunan yang sangat indah. Gadis itu menyembunyikan ketiga wanita penenun itu dari pandangan mata sang Ratu sehingga setiap kali Ratu berkunjung, sang Ratu hanya melihat dia sendirian bersama tumpukan tenunan yang sangat indah; dan tidak terhingga pujian-pujian yang diterimanya dari Ratu. Ketika kamar pertama sudah kosong, mereka mulai menenun di kamar kedua, lalu ke kamar ketiga sampai semua rami telah selesai di tenun. Lalu saat ketiga wanita penenun itu akan pergi, mereka berkata pada sang Gadis,
"Jangan lupa dengan apa yang kamu janjikan, dan semuanya akan menjadi lebih baik untuk kamu."
Ketika sang Gadis memperlihatkan pada Ratu ruangan yang telah kosong, dan sejumlah besar tenunan, Ratu langsung mengatur pernikahan gadis itu dengan putranya yang tertua, dan mempelai pria itupun sangat senang karena mendapatkan calon istri yang sangat pandai dan rajin.
"Saya mempunyai tiga orang sepupu," kata Gadis itu, "dan karena mereka sangat baik kepada saya, Saya tidak akan pernah lupa kepada mereka disaat saya mendapatkan keberuntungan; bisakah saya mengundang mereka datang ke pesta, dan meminta mereka duduk satu meja dengan kita?"
Ratu dan putra tertuanya yang akan menjadi calon suami berkata bersamaan,
"Kamu boleh mengundangnya datang, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak mengundangnya kesini,"
Ketika perjamuan dimulai, ketiga wanita penenun tersebut datang tanpa menyembunyikan keburukan rupa mereka, dan sang Gadis berkata,
"Sepupuku yang baik, selamat datang."
"Oh," kata mempelai pria, "bagaimana kamu bisa mempunyai sanak keluarga yang sangat buruk rupa?"
Kemudian dia menemui wanita penenun yang pertama dan bertanya kepadanya,
"Bagaimana kamu bisa mempunyai kaki yang begitu lebar dan rata?"
"Saya selalu menapakkan kaki saya pada alat tenun," katanya.
Ketika dia menemui wanita yang kedua dan bertanya,
"Bagaimana kamu bisa mempunyai bibir yang bergantungan sampai ke dagumu?"
"Dengan menjilat benang." katanya,
Dan kemudian dia bertanya kepada wanita yang ketiga,
"Bagaimana kamu bisa mempunyai ibu jari yang sangat besar dan lebar?"
"Dengan memilin benang," katanya.
Kemudian mempelai pria berkata bahwa semenjak saat itu, sang gadis yang menjadi istrinya ini harus berhenti untuk menenun dan jangan pernah menyentuh alat tenun lagi.
Dan begitulah akhirnya sang gadis lepas dari pekerjaan menenun yang melelahkan.

Tiga Lembu Jantan dan Singa

00.05 0 Comments

Tiga Lembu Jantan dan Singa

Aesop


Sang Singa mengamati kawanan lembu jantanSeekor singa telah lama mengamati 3 ekor lembu jantan yang sedang makan di padang rumput yang terbuka. Sang Singa telah beberapa kali mencoba untuk menyerang kawanan lembu tersebut, tetapi kawanan tersebut selalu bersatu, saling membantu satu sama lain sehingga sang Singa selalu mengalami kegagalan. Sang Singa hanya memiliki harapan tipis untuk memangsa lembu-lembu tersebut karena sang Singa bukanlah tandingan ketiga lembu jantan yang kuat, bertanduk tajam dan berkuku kaki yang keras. Tetapi sang Singa tidak pernah meninggalkan padang tersebut karena selalu tergiur untuk memangsa kawanan lembu itu.
Suatu hari, kawanan lembu ini bertengkar hebat sesamanya, dan akibat pertengkaran itu, mereka sekarang berdiri sendiri-sendiri, terpisah jauh antara yang satu dengan yang lainnya.
Saat itulah sang Singa dengan mudahnya menerkam lembu-lembu tersebut satu-persatu.
Dengan bersatu, kita menjadi kuat.

Tiga Ekor Beruang

00.05 0 Comments

Tiga Ekor Beruang

Joseph Jacobs


Suatu masa, ada tiga ekor beruang yang tinggal bersama di sebuah rumah yang mereka bangun sendiri di dalam hutan. Satu beruang berukuran kecil, satu beruang berukuran sedang, dan satunya lagi berukuran besar. Mereka memiliki setiap mangkuk untuk bubur mereka, sebuah mangkuk kecil untuk beruang kecil, mangkuk berukuran menengah untuk beruang sedang, dan mangkuk besar untuk beruang besar. Dan mereka memiliki setiap kursi untuk duduk, sebuah kursi kecil untuk beruang kecil, kursi berukuran menengah untuk beruang sedang, dan kursi besar untuk beruang besar. Dan mereka memiliki masing-masing tempat tidur untuk tidur, tempat tidur kecil untuk beruang kecil, dan tempat tidur berukuran menengah untuk beruang sedang, dan tempat tidur besar untuk beruang besar.
Para beruang membagikan buburSuatu hari, setelah mereka telah membuat bubur untuk sarapan mereka, dan menuangkannya ke dalam bubur mangkuk mereka, mereka berjalan keluar ke dalam hutan sambil menunggu sampai bubur mereka menjadi dingin agar mulut mereka tidak kepanasan saat memakannya. Dan sementara mereka keluar berjalan-jalan, seorang gadis kecil bernama Goldilocks kebetulan tiba di rumah para beruang. Pertama, Goldilocks melihat dari jendela, dan kemudian dia mengintip dari lubang kunci, dan karena dia tidak melihat siapapun di rumah tersebut, ia pun memutar pegangan pintu. Kebetulan pintu tersebut tidak dikunci, karena para beruang adalah beruang yang baik, yang tidak pernah melakukan kejahatan, dan tidak pernah menduga bahwa akan ada orang yang akan berbuat jahat kepada mereka. Goldilocks lalu membuka pintu dan masuk, dan ketika dia melihat bubur di atas meja, dia menjadi gembira. Seandainya dia adalah gadis kecil yang bijaksana, dia akan menunggu sampai beruang pulang, kemudian meminta bubur itu sedikit dari para beruang sebagai rasa sopan santun, karena mereka adalah beruang yang baik dan ramah. Tetapi bubur di atas meja tampak begitu menggoda sehingga Goldilocks tidak menunggu lama lagi untuk memakan bubur tersebut.
Goldilocks mencicipi bubur di atas mejaAwalnya dia mencicipi bubur dari mangkuk yang terbesar milik beruang besar, dan karena bubur tersebut masih terlalu panas untuknya, dia lalu mencicipi bubur milik beruang sedang, dan bubur tersebut dirasanya terlalu dingin. Kemudian dia pun mencicipi bubur milik beruang kecil, dan karena bubur tersebut tidak terlalu panas ataupun terlalu dingin, dia lalu memakan semuanya.
Kemudian Goldilocks duduk di kursi yang besar milik beruang besar, tetapi kursi tersebut terlalu keras baginya. Kemudian dia duduk di kursi milik beruang sedang, dan dirasanya kursi tersebut terlalu lunak untuknya. Dan kemudian dia duduk di kursi milik beruang kecil, dan dia merasa kursi tersebut sangatlah tepat untuknya karena tidak terlalu keras dan tidak terlalu lunak. Jadi dia pun duduk sendiri di kursi tersebut sampai bagian bawah kursi itu menjadi rusak dan dia terperosok jatuh ke lantai.
Kemudian Goldilocks naik ke lantai atas ke kamar di mana tiga beruang tidur. Pertama-tama dia berbaring di atas tempat tidur yang besar, tapi itu tempat tidur itu terlalu besar untuknya. Berikutnya ia berbaring di atas tempat tidur beruang sedang, dan itu pun dirasanya terlalu besar. Kemudian ia berbaring di atas tempat tidur kecil dan dirasanya tempat tidur itu sangat tepat untuknya. Jadi ia pun menutupi dirinya dengan selimut yang nyaman, dan berbaring di sana sampai ia jatuh tertidur.
Para beruang terkejut melihat ada orang yang telah menyentuh bubur merekaPada saat ini para beruang berpikir bahwa bubur mereka cukup dingin, mereka pun pulang kembali ke rumah untuk memakannya. Tadinya Goldilocks telah meninggalkan sendok besar milik beruang besar di mangkuk buburnya.
"Seseorang telah menyentuh bubur saya!" kata beruang besar, dengan suara yang berat dan dalam. Dan ketika beruang sedang menatap bubur miliknya, dia melihat bahwa sendoknya juga ada di dalam mangkok juga.
"Seseorang telah menyentuh bubur saya!" kata beruang sedang, dengan suara yang sedang-sedang. Kemudian beruang kecil memandang buburnya, dan dia melihat ada sendok di pot bubur, dan semua buburnya telah habis.
"Seseorang telah menyentuh bubur saya dan memakan semuanya !" kata beruang kecil dengan suaranya yang kecil.
Setelah ketiga beruang menyadari bahwa ada seseorang yang telah memasuki rumah mereka, dan memakan semua sarapan untuk beruang kecil, mereka mulai mencari-cari ke sekitar mereka. Tadinya Goldilocks tidak mengembalikan bantal kursi pada kursi beruang besar setelah duduk. 
"Seseorang telah duduk di kursi saya!" kata beruang besar, dengan suara yang berat dan dalam.
Goldilocks juga tadi duduk di kursi beruang tengah dan meninggalkan bekas.
"Seseorang telah duduk di kursi saya!" kata beruang tengah, dengan suara tengahnya.
Beruang kecil melihat kursinya yang rusak"Seseorang telah duduk di kursi saya, dan telah duduk sehingga kursi saya rusak!" kata beruang kecil dengan suaranya yang kecil.
Kemudian ketiga beruang membuat pencarian lebih jauh lagi, hingga akhirnya mereka naik ke lantai atas, ke kamar tidur mereka. Tadinya Goldilocks telah menarik bantal dari tempat tidur beruang besar.
"Seseorang telah berbaring di tempat tidur saya!" kata beruang besar, dengan suara yang berat.
Tadinya Goldilocks juga telah menarik bantal guling milik beruang tengah dari tempatnya.
"Seseorang telah berbaring di tempat tidur saya!" kata beruang tengah dengan suara tengahnya.
Dan ketika beruang kecil mendekat untuk melihat tempat tidurnya, dilihatnya kepala Goldilocks yang tidur di tempat tidurnya.
"Seseorang telah berbaring di tempat tidur saya dan dia ada di sini!" kata beruang kecil dengan suaranya yang kecil.
Goldilocks yang tertidur di ranjang beruang kecilSaat Goldilocks mendengar suara beruang besar yang berat dan suara beruang sedang, dia mengira bahwa dia bermimpi dan mendengar suara itu dalam mimpinya. Tapi ketika dia mendengar suara beruang kecil yang walaupun tidak keras, tetapi melengking tinggi, dia langsung terbangun. Dan ketika ia melihat tiga ekor beruang di salah satu sisi tempat tidur nya, dia menjatuhkan dirinya turun dari ranjang dari sisi yang satunya, lalu berlari ke jendela dengan ketakutan. Jendela tersebut dibiarkan terbuka oleh para beruang, karena mereka adalah beruang yang baik dan rapih, dan mereka selalu membuka jendela kamar tidur mereka ketika bangun di pagi hari. Goldilocks melompat keluar dari jendela itu, dan berlari secepat mungkin tanpa melihat ke belakang lagi, dan apa yang terjadi padanya setelah kejadian ini, tidak ada yang tahu dan ketiga beruang ini tidak pernah melihat dirinya lagi.

Tiga Anak yang Beruntung

00.04 0 Comments

Tiga Anak yang Beruntung

Brothers Grimm


Seorang ayah memanggil ketiga puteranya ke hadapannya, lalu dia memberikan putra yang tertua seekor ayam jantan, kepada putra yang kedua diberinya sebuah sabit, dan yang ketiga mendapatkan seekor kucing. "Saya sudah tua," katanya, "kematianku sudah dekat dan saya berharap kalian mendapatkan pelajaran sebelum saya meninggal; saya tidak memiliki uang, dan sepertinya apa yang saya berikan sekarang kepada kalian, nilainya sangat kecil, tetapi semua tergantung dari bagaimana kalian memanfaatkannya. Carilah suatu negeri di mana benda-benda yang saya berikan kepada kalian, tidak pernah dilihat ataupun dikenal oleh penduduk negeri itu. Disanalah kalian akan mendapatkan kekayaan."
Putra ketiga dan kucingnya yang menangkap banyak tikusSetelah ayah mereka meninggal, anak yang tertua berangkat bersama ayam jantannya, tetapi kemanapun dia pergi, penduduk di negeri yang didatangi, sepertinya telah pernah melihat ayam jantan. Hal itu diketahuinya dengan cara melihat atap-atap rumah yang dihiasi dengan penunjuk arah angin yang berbentuk ayam, ataupun mendengarkan kokok ayam jantan dari kejauhan. Dan penduduk di negeri yang dilewati tidak menunjukkan kekaguman kepada ayamnya, sehingga sepertinya ia tidak akan bisa menjadi kaya di negeri tersebut.
Akhirnya ia tiba di suatu pulau di mana penduduknya tidak tahu dan tidak pernah melihat ayam jantan, bahkan mereka tidak tahu bagaimana membedakan waktu. Mereka tahu bahwa hari sudah pagi, atau siang, tetapi di saat malam, apabila mereka tidak tidur, mereka tidak pernah tahu bagaimana mengetahui waktu.
"Lihatlah!" kata putera tertua, "Mahkluk yang anggun ini! ia memiliki mahkota berwarna merah ruby di kepalanya, memakai bulu seperti layaknya kesatria, berkokok tiga kali setiap malam pada waktu tertentu, dan saat ia berkokok untuk terakhir kalinya, matahari akan segera bersinar. Tetapi jika ia berkokok di siang hari, perhatikanlah, karena akan terjadi perubahan cuaca."
Penduduk di pulau itu menjadi sangat senang, sehingga malam harinya mereka tidak tidur hanya untuk mendengarkan sang ayam jantan berkokok pada jam dua, empat dan enam, dengan keras dan jelas mengumumkan waktu. Penduduk di sana kemudian melakukan penawaran untuk membeli ayam si Putra Tertua dan bertanya berapakah harga yang pantas untuk ayam tersebut? "Emas seberat yang bisa dibawa oleh seekor keledai." jawabnya. "Harga yang sangat murah untuk mahkluk yang sangat berharga!" kata putra tertua, dan penduduk di pulau itupun setuju untuk memberikan apa yang diminta oleh putra tertua.
Ketika dia pulang ke rumah dengan kekayaannya, saudara-saudaranya menjadi kagum, dan selanjutnya yang keduapun berkata,"Yah, aku akan pergi dan melihat apakah saya bisa mendapatkan keberuntungan dengan sabit saya." Tapi itu tidak gampang baginya, karena setiap ia bertemu dengan pekerja kebun ataupun petani dimana-mana, mereka telah memiliki sabit yang disandarkan di atas bahunya.
Akhirnya, putra kedua kebetulan tiba di sebuah pulau di mana penduduk di sana tidak tahu apa-apa tentang sabit. Ketika jagung sudah siap dipanen di sana, mereka membawa meriam ke ladang dan menembakkannya ke kebun jagung. Sudah jelas cara ini tidak benar, banyak tembakan meriam yang tidak tepat jatuhnya, terkadang yang kena adalah jagungnya dan bukan batang jagung sehingga banyak jagung yang rusak, dan selain itu, suara meriam tersebut mengeluarkan suara letusan yang mengejutkan. Jadi putra kedua mengeluarkan sabitnya lalu mulai bekerja memanen dan memotong batang jagung dari bawah dengan tenang dan cepat sehingga orang-orang yang melihatnya bekerja, membuka mulut mereka dengan takjub. Akhirnya mereka sepakat untuk memberikan apa saja yang putera kedua inginkan sebagai ganti rugi untuk sabit tersebut, dan ia pun menerima kuda yang sarat dengan emas seberat yang bisa di bawa oleh kuda tersebut.
Dan sekarang putera ketiga juga ingin membawa kucingnya ke negeri yang tepat. Awalnya dia mengalami kesulitan seperti saudaranya yang lain sewaktu melakukan perjalanan, kemanapun ia pergi, di negeri-negeri tersebut banyak terdapat kucing.
Akhirnya ia berlayar ke sebuah pulau, di mana tidak ada kucing yang pernah terlihat di sana, sehingga tikus-tikus yang berada di pulau itu sudah tidak terkontrol bahkan mereka sampai menari-nari di atas meja dan kursi, walaupun pemilik rumah ada di rumah ataupun tidak. Orang-orang telah mengeluhkan hal ini kepada Raja, tetapi Raja sendiri di istana tidak tahu bagaimana caranya untuk mengamankan diri mereka dari gangguan tikus yang mencicit di setiap sudut ruangan, dan menggerogoti apa pun yang mereka temui dengan gigi mereka. Tapi sewaktu kucing putera ketiga hadir, kucing itu mulai mengejar tikus-tikus yang dilihatnya dan segera membersihkan beberapa kamar dari gangguan tikus, dan orang-orang pun memohon sang Raja untuk membeli hewan yang berguna ini untuk negara. Raja pun rela memberikan apa yang diminta oleh sang Putra Ketiga, yaitu keledai yang sarat dengan muatan emas, dan akhirnya putra ketiga pun pulang membawa harta kekayaan yang besar seperti saudara lainnya.
Sang Kucing pun sangat gembira dengan banyaknya tikus di istana kerajaan, dan membunuh begitu banyak jumlah tikus sampai tidak bisa dihitung lagi. Akhirnya sang Kucing menjadi sedikit letih dan kehausan setelah menangkap tikus. Dia pun berdiri diam, mengangkat kepalanya lalu mengeong, "Meow Meow!" Ketika orang-orang mendengar teriakan aneh ini, Raja dan seluruh rakyatnya menjadi ketakutan, dan karena takutnya, mereka berlari-larian sekaligus keluar dari istana. Kemudian Raja memanggil penasihat dan bertanya apa yang sebaiknya mereka lakukan, dan mereka mengambil keputusan untuk mengirimkan utusan untuk meminta agar sang Kucing meninggalkan istana itu dan jika sang Kucing tidak meninggalkan istana, sang Kucing akan diusir dari istana dengan paksa. Para anggota dewan penasehat mengatakan, "Lebih baik kita membiarkan diri kita diganggu oleh tikus, daripada menyerahkan hidup kita ke makhluk menakutkan seperti kucing itu." Seorang pemuda bangsawanpun diutus untuk meminta sang Kucing meninggalkan tempat itu "apakah engkau akan meninggalkan istana ini dengan damai?" tanya bangsawan itu, tetapi kucing yang kehausan ini hanya menjawab, "!Meow Meow!" Pemuda ini mengartikan bahwa sang Kucing tidak mau meninggalkan istana dan memberikan jawaban ini kepada sang Raja."Kalau begitu," kata anggota dewan penasehat, "dia akan kita paksa untuk keluar dari istana." Meriampun dikeluarkan dan ditembakkan ke istana yang dengan segera terbakar oleh api. Ketika api mencapai ruang di mana kucing itu duduk, dengan ringannya sang Kucing melompat dengan aman keluar dari jendela untuk meninggalkan istana, tetapi para pengepung tidak mengetahui hal ini dan terus menembakkan meriamnya sampai seluruh istana runtuh.